Sabtu, 14 Januari 2017

Sorry, I'am Pregnant [Part 2. Happy New For You] [Cerbung Rify] [By : Jukokx (Wattpad)]








Part 2 : ‘Happy New For You’



Ify menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya. Di tatapnya Via yang disampingnya dengan tersenyum bahagia. Dia sangat bahagia, sungguh!! Via pun membalas senyum Ify sambil menggenggam lembut tangan Ify.

"Saya harap kandungan anda dijaga baik-baik, apalagi kandungan anda baru 2 minggu. Bisa saja hal yang tidak diinginkan terjadi" nasihat seorang lelaki tua dengan kacamata yang bertengger di hidungnya dan setelan jas bewarna putih khas seperti dokter.

Ify mengangguk senang sesekali dia melirik amplop coklat besar yang berisi foto anaknya yang masih sangat kecil. Hasil USG.

"Yasudah terimakasih dokter, Kami permisi" ucap Via sambil menarik tangan Ify untuk keluar dari ruangan dokter tua itu. Dokter itu pun mengangguk sambil tersenyum kearah Ify dan Via.

"Aku sangat bahagia Vi, sungguh!" Ucap Ify antusias, saat mereka sedang di luar ruangan dokter sambil berjalan meningglakan rumah sakit. tak terasa air mata bahaginya akhirnya turun.

"ya.... aku juga, syukurlah kau tak menggugurkannya" ucap Via tersenyum kepada Ify sambil menggenggam tangan Ify lembut.

Ify menggelengkan kepalanya keras-keras "Aku tidak akan melakukan hal yang bodoh sepeti itu Vi. Karena dia hadir, aku jadi bertambah semangat untuk hidup, apalagi karena kejadian dulu" Ucap Ify sambil menerawang pikirannya tentang kejadian dulu. Tapi karena kejadian dulu itu, Dimana pemuda yang dicintainya merebut mahkota berharganyaia, sebentar lagi malaikat kecilnya akan hadir. Dia sangat senang mendengar berita bahagia ini.

"Apa kau sudah memberitahuinya?" tanya Via sambil mengernyitkan dahinya menatap Ify.

Langkah Ify pun mendadak berhenti karena pertanyaan Via. Ify menggelengkan kepalanya lemas, da menundukkan kepalanya. Dia sangat takut memberitahukan kabar bahagia ini pada pemuda yang dicintainya itu. Dia takut pemuda itu tidak menerima malaikat kecil mereka. Dia sangat takut, sangat! Via berdecak menatap Ify kesal karena setiap kalau mengungkit pemuda itu, Ify selalu saja seperti orang ketakutan.

"Sebaiknya kau katakan padanya, bagaimana pun juga dia adalah ayah dari anak yang kau kandung" ucap Via sambil menunjuk perut Ify yang masih datar tak lupa juga meliriknya.

Ify mengangguk lemah. Dia sangat takut ketemu pemuda itu. Pemuda yang sangat sangat dicintainya. Tapi sayangnya pemuda itu tidak mencintainya, hanya memanfaatkannya.

"Jika kau menginginkan sesuatu katakanlah, aku akan menurutinya. Anggap saja aku dulu suami mu" mendengar itu Ify terkekeh kecil. Via selalu saja bisa membuatnya menjadi lebih baik kalau lagi sedih. Ify pun mengangguk lalu memegang tangan Via lembut. Mereka pun berjalan pergi meninggalkan rumah sakit itu.

Disinilah sekarang Ify didepan rumah besar bak istana milik pemuda itu. Dilihat pintunya saja sudah megah, gimana dalamnya? Pasti lebih megah. Ify harus melawan rasa takutnya demi anak mereka. Bagaimana kalau dia tidak mnerima ku? Bagaimana kalau dia tidak menerima malaikat kecil kami? Bagaimana kalau... Errhh... Dia menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan menghilangkan rasa sesak di dadanya saat pikiran negative di pikirannya. Tangannya sudah keringat dingin dan mulai gemetar. Diangkatnya tangannya memencet bel yang disebelah pintu rumah itu. 3 kali dia memencet bel itu akhirnya pintu itu pun terbuka.

Nampaklah seorang pemuda sangat tampan. Dengan memakai kaus putih polos, celana pendek yang longgar, rambut yang acak-acakan, sambil mengucek-ngucek matanya yang memerah. Seperti baru bangun tidur. Seketika Ify hanya mampu berdiam diri melihat pemandangan yang indah baginya. Pemuda itu baru bangun tidur saja sudah mampu membuat dia ingin meleleh seperti bongkohan es yang terkena matahari. Dia hanya mampu menelan ludahnya.

"Ada apa" ucap pemuda itu dingin, membuyarkan lamunanya. Ify hanya mampu menarik nafasnya menghilangkan rasa sesak di dadanya yang tiba-tiba sesak saat mendengar suara dingin pemuda itu. Pemuda itu masih sama, masih selalu dingin saat berbicara padanya. Pemuda itu akan bersikap manis padanya saat pemuda itu ada maunya. Contohnya seperti, saat pemuda itu menelepon Ify untuk menyuruh membawakan baju tambahannya ke lokasi syuting. Sedangkan Ify lagi dikampusnya menyelesaikan skripsinya. Dia sangat kewalahan, ditambah lagi jarak kampus ke rumah besar pemuda itu sangat jauh apalagi mengantarnya ke lokasi syuting pemuda itu. Tapi Ify selalu melakukannya demi pemuda yang sangat dicintainya itu, tanpa mengeluh pada pemuda itu.

"Aku ingin menyampaikan hal yang penting" ucap Ify. Dia melirik ke kanan lalu ke kiri memastikan kalau tidak ada orang yang melihatnya, apalagi kalau wartawan. Bisa-bisa besok dia akan menjadi trending topic. "Bisakah aku masuk?" lanjut Ify.

Pemuda itu mengangguk lalu memundurkan langkahnya, membiarkan Ify masuk ke rumahnya. Ify pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah pemuda itu lalu menduduki dirinya di sofa merah besar rumah itu. Sebelum pemuda itu menutup pintu rumahnya, dia juga melakuan hal yang sama seperti Ify tadi, melirik ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang yang melihatnya bersama wanita. Setelah itu dia menutup pintunya lalu berjalan kearah Ify. Dia menduduki dirinya disamping sofa merah yang sedang diduduki Ify.

Pemuda itu adalah Devrio Corrado Decker. Pemuda yang sangat tampan yang digilai banyak wanita. Dengan tubuh yang berbentuk tetapi tidak berlebihan, kulit yang sawo matang seperti kulit indonesia, hidung yang tidak mancung dan tidak pesek, bibir yang sexy bewarna pink, mata yang bewarna hijau tua. Rio adalah seorang artis. Dia penyanyi yang memiliki suara yang lembut dan sexy dan aktor yang memiliki bakat acting yang luar biasa di mata sutradara. Rio seperti seorang manusia yang mendekati kata sempurna. Sayangnya Rio memiliki hati sepeti es dan dia tidak seperti pemuda lainnya, yang bersikap romantis kepada setiap wanita yang dicintai. Rio bukanlah pemuda romantis. Rio sering sekali tampil di setiap siaran televisi ataupun majalah dengan kabar bersama seorang wanita. Kadang Ify menangis diam-diam jika mendengar atau melihat berita begitu. Sayangnya Rio tidak pernah mencintainya. Dulu Ify sempat meminta pada Rio untuk menyanyikan lagu untuk dirinya. Tapi Rio malah menolak mentah-mentah karena tidak Penting baginya.

"Apa hal penting yang ingin kau bicarakan?" Tanya Rio menatap Ify.

Ify hanya mampu menelan ludahnya karena dia sangat gugup. Dia menundukkan kepalanya sambil meremas-remas ujung amplop coklat besar yang dibawanya tadi, hingga kusut.

Rio mengernyitkan dahinya bingung, melihat Ify seperti gugup melihatnya.

"I..i..ini" Ucap Ify gugup sambil menyodorkan amplop coklat besar itu Ke hadapan Rio.

Rio menaikan satu alisnya lalu mengambil amplop itu. Dibukanya amplop itu lalu dibacanya.

"Aku hamil" ucap Ify pelan.

Rio terlonjak kaget membaca hasil USG-nya ditambah lagi ucapan Ify barusan. Matanya melebar, rahangnya mengeras, tangannya dikepal hingga telapak tangannya memutih. "Gugurkan dia, aku tak sudi menerimanya di kehidupan ku"

"Ke..kenapa?" tanya Ify dengan terbata-bata menahan tangisnya. Hatinya sakit, saat Rio mengatakan dia harus menggugurkan malaikat kecil mereka.

"Karena aku tidak mau mempunyai keturun dari mu. Aku hanya mempermainkan mu tidak sungguh-sungguh" ucap Rio pedas.

Mendengar itu air mata Ify lolos. Ify hanya dapat menundukkan kepalanya. Diremasnya jari-jarinya terus, digitnya bibir bawahnya agar dapat menahan tangisnya. Dia hanya mampu terisak.

Rio mengambil dompetnya dari kantong celananya. Lalu dia mngeluarkan sejumlah uang yang sangat banyak. Di letakkan uang itu di meja hadapan Ify.

"Berhentilah menangis, air mata mu tidak akan mampu mengubah ku. Aku tidak akan bertanggung jawab. Gunakan uang ini untuk mengugurkannya, bagaimana pun caranya. Aku tidak peduli" kata-kata itu hanya mampu membuat Ify diam seribu bahasa. Sungguh hatinya sangat sakit.

Ify menghapus air matanya, dia menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Lalu dia tersenyum pada Rio. "Aku tidak akan mengambil uang itu. Dan aku tidak akan menggugurkan anak ku, walaupun kau tidak akan mau bertanggung jawab" ucap Ify sebisa mungkin menahan tangisnya. "Kalau kau berubah pikiran. Datang lah, aku tidak akan pernah membenci mu, Aku pergi" lanjut Ify, dia segera melangkahkan kakinya pergi meninggalkan rumah besar itu karena tidak akan sanggup lagi. Sebelum Ify jauh melangkah, dia sempat mendengar gumaman Rio.

"Ciih.. tidak akan" gumam Rio sambil tersenyum miring menatap punggung Ify yang mulai Menjauh.

Ify berlari kecil sambil sesekali menghapus air matanya yang terus turun tanpa henti. Saat dia membuka pintu itu, dia menabrak dada tegap seseorang. Ify mendongak, dilihatnya seorang pemuda. "Aku minta maaf" lirih Ify lalu dia segera pergi meninggalkan rumah besar itu.

Pemuda itu menatap punggung Ify sampai hilang di balik pagar besar rumahnya. Dengan tatapan bingung, melihat wanita keluar dari rumahnya apalagi dengan keadaan menangis dan satu lagi wanita itu tidak seperti wanita lain yang sering datang ke rumahnya. Wanita itu beda. Apalagi cara berpakaiannya termasuk sopan, wanita itu juga meminta maaf hanya karena menabrak dadanya. Biasanya wanita yang datang kerumahnya sealu bersikap angkuh.

Pemuda itu masuk ke dalam rumahnya lalu menghampiri Rio yang sedang duduk menonton di sofa merahnya dengn santai sambil sesekali menukar siaran TV-nya.

"Siapa tadi?" tanya pemuda itu.

Rio hanya mengangkat bahunya acuh. Dia hanya menatap TV tanpa membalasnya dengan suara, karena menurutnya tidak penting.

Pemuda itu adalah Raviell Jaye Decker. Pemuda itu adalah adik kandung Rio. Umur Iel hanya beda tiga tahun dengan Rio yaitu 22 sama dengan Ify. Mereka hanya tinggal di rumah besar bak istana itu dengan pembantu-pembantunya.  Orangtua mereka lebih memilih tinggal di Australia, sedangkan mereka lebih memilih tinggal di jerman memulai karir mereka. Ya.. Iel juga sama seperti Rio. Iel juga seorang aktor dan juga penyanyi. Iel juga tak kalah tampan dari Rio. Tapi menurut kebanyakan wanita Rio lah lebih tampan dari Iel meskipun sebenarnya Iel juga tampan.

Iel hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rio yang selalu tidak peduli kalau tentang wanita. Iel pun berlalu meninggalkan Rio menuju kamarnya. Dia sangat capek karena banyak job yang harus di tanganinya. Mulai dari menyanyi di sebuah siaran lalu ke lokasi syuting melakukan actingnya. Sama seperti Rio. Hanya saja hari minggu adalah hari yang libur bagi Rio. Jadi baginya tidak ada yang boleh menganggunya di hari minggu, termasuk tentang job-nya. Tetapi wanita tadi datang kerumahnya dengan berkata dia hamil. Seketika mood-nya jadi hilang.

***

Ify menangis sejadi-jadinya. Ternyata dugaannya benar, bahwa Rio tidak akan pernah mau melakukan tanggung jawab. Rio bahkan menyuruhnya menggugurkan bayi mereka. Dia sungguh kejam melebihi devil bagi Ify. Tapi entah kenapa Ify  masih saja mencintai pemuda itu. Walaupun Rio sudah mengeluarkan kata-kata kasarnya. Ingin rasanya dia membenci Rio tapi selalu tidak bisa. Bukan karena dia memilih Rio yang memiliki uang banyak ataupun karena Rio seorang penyanyi atau aktor. Tapi karena dia sangat sangat mencintai Rio. Sungguh!! dia tidak bohong.

Via yang disampingnnya hanya menatap Ify dengan tatapan kasian. Dia tidak bisa berbuat apa-apa kalau begini jadinya. Via mengelus punggung Ify dengan lembut. Dia sangat membenci pemuda itu yang membuat Ify begini, apalagi ditambah mendengar cerita Ify saat dia sampai di kost-nya melihat Ify menangis lalu langsung memeluknya.Via hanya dapat menenangkan Ify.

"ssttt... sudahlah fy, tidak ada artinya kau menangis terus. Cobalah kau lupakannya dan mulai lah kau hidup baru dengan anak mu nanti dan mencoba mencari pemuda lain" ucap Via mencoba menenangkan Ify.

Ify menatap Via dengan mata yang sudah membengkak akibat menangis. Lalu dia menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa Vi, a..aku tidak bisa membencinya" ucap Ify dengan tersenddak-sendak akibat menangis.

Via menarik nafasnya lalu menghembuskannya kasar. Dia bingung harus mau ngomong apalagi supaya Ify bisa tenang. Via melirik jam di dinding kost-nya. Sudah menunjukkan pukul 7 malam.

"Apa kau sudah makan?" tanya Via berusaha menenangkan Ify.

Ify menggelengkan kepalanya secara perlahan. "Kau harus makan, kau mau dia pergi?" tanya Via sambil melirik perut Ify yang masih rata dilapisi tanktop pink-nya.

Ify menggelengkan kepalanya lagi "Yasudah, sekarang kau ingin makan apa?" tanya Via.

Ify menatap Via dengan mata berbinar "Aku ingin makan Schnitzel-Spätzle Topf (mie yang terbuat dari jerman), jamurnya yang gurih, daging sapinya yang lezat, aku ingin memakan itu" sambil membayangkan betapa enaknya  Schnitzel-Spätzle Topf di mulutnya.

Via tersenyum melihat Ify yang mulai merasa tenang. "Yasudah. Aku akan membuatnya, kau tunggu di ruang makan ya" ucap Via mulai melangkahkan kakinya. Ify mengangguk antusias. Lalu dia mengusap perutnya

"Sabar ya sayang. Mutter (ibu) tidak akan menggugurkan mu. Walaupun Vater mu (ayah mu) tidak akan mau menganggap mu sebagai anaknya. Tapi Mutter janji akan selalu menjaga mu, dari orang-orang jahat" Ucap Ify dengan tulus. Di usapnya perutnya, dengan berbicara sendiri. Lagi lagi air matanya pun turun lagi. 


~To Be Continued~
Wattpad : Jukokx

2 komentar: